Dahlan Iskan
Juli 11, 2009 at 8:08 am Tinggalkan komentar
Gue membaca koran tidak rutin, hanya kalau pas waktu senggang saja atau ada berita menarik. Tapi seminggu terakhir ini gue orang pertama dirumah yang merebut Jawa Pos dan membaca dengan serius. Sebabnya adalah tulisan bersambung Dahlan Iskan tentang “Memoar rumah sakit China ketika mencangkok Liver.”
“Inspiring”, kata orang bule, “mencerahi” adalah kata terdekat dalam kosa kata kita. Gue heran juga ketika gue di tempat kerja dan semua rekan juga membacanya dengan hikmat. Gue percaya tulisan ini mencerahi ratusan ribu orang yang membacanya.
Beliau menulis tentang saat saat sebelum operasi masih saja ditawari “take over” koran lain, bisnis yang tak pernah surut pada ujung jalan; tentang teman2 yang mendoakannya; tentang keluarganya yang banyak mati muda; tentang doanya sendiri yang terasa ikhlas; tentang organ tubuh yang datangnya telat tiga jam.
Hidupnya yang susah sampai SMA belum bisa punya sepatu; lukanya yang kena cangkul; sepeda kesayangan yang digendongnya jalan; mimpinya yang selalu sederhana; pencapaiannya yang sangat luar biasa; ketidak tahanan rasa sakit ketika di kemoterapi tahun lalu; semuanya mengalir dengan lancar dan nikmat.
Teman2 di Surabaya banyak yang tahu bahwa beliau memang tidak sehat dan sudah dua tahun ini sering mondar mandir China berbisnis dan berobat. Ujungnya adalah pencangkokan organ tubuh yang paling sulit dan besar dalam kedokteran kita, penggantian liver.
Ah beliau memang seorang wartawan sejati. Baru saja lolos dari maut, apa yang dilakukannya? Menulis! Ya menulis untuk mengilhami semua orang, mencerahi dan memberi semangat hidup pada orang lain yang membacanya.
Entry filed under: curhatan, kbm, Uncategorized. Tags: figur, tokoh.

Trackback this post | Subscribe to the comments via RSS Feed